Thursday, February 10, 2011

KEKUATAN CAHAYA RUHIYAH


Bismillahirrahmanirrahim

Asalamualaikum teman2 :) Apa khabar?? 

Lama tak bersua... ceh, macam ckp sorang2 plak. hehe.

Ni, ttg kekuatan ea;) renungan kita bersama... 

Kekuatan itu milikMu Rabb.
 

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan  berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-Mu  dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah  Maha Penerima Taubat." (QS.An-Nashr 100:1-3)

Kekuatan adalah hal yang mutlak dimiliki untuk mencapai suatu  kemenangan. Kita memerlukan kekuatan untuk mencapai kemenangan dalam  kesulitan hidup dan mengatasi hawa nafsu. Demikian pula demi  mencapai kemenangan dalam mengalahkan musuh-musuh Islam. Walhasil,
kita memang harus terus menerus menggalang kekuatan yang ada pada  diri kita.

Tanpa hal yang satu ini - lemah dalam hal fizikal, ekonomi,  kepandaian misalnya - terbukti telah membuat kita tidak dapat  berperanan sebagai makhluk yang unggul yang membawa manfaat banyak,  baik bagi diri sendiri lebih-lebih bagi sesama. Bahkan lebih jauh  dari itu, kita menjadi tertindas, adakah itu oleh hawa nafsu  sendiri atau oleh makhluk-makhluk yang tidak menyukai kebenaran.

Dengan demikian, kita sayugianya terus-menerus menggalang kekuatan  yang telah dianugerahkan Allah pada diri kita. Akan tetapi,  hendaknya segera disedari bahwa tidaklah cukup hanya kekuatan  zahir yang kita perlukan.

Ada satu kekuatan lain yang terkadang dilupakan dan tidak dibangun  dengan sungguh-sungguh. Padahal kita mampu membangunnya dengan  tanpa memerlukan biaya ataupun pertolongan orang lain. Dengan  kekuatan ini kita jestru boleh menang melawan apapun dan siapapun.  Kekuatan apakah itu?

Pada abad ke-7 Hijriah telah terjadi pertempuran yang sangat  dahsyat dan monumental. Ketika itu bangsa Tartar di bawah pimpinan  Jengish Khan menyerbu dan memusnahkan negara-negara yang  dihuni oleh penduduk muslim, bagaikan air bah yang tak  tertahankan. Inilah babak sejarah yang paling kelam bagi umat  Islam ketika itu kerana telah dilindas habis oleh bangsa tartar.  Mereka benar-benar tidak terkalahkan. Pedang-pedang tentara Islam  seakan tumpul, tiada daya.

Tersebutlah ketika itu ada seorang ulama mursyid bernama Syeikh  Jamaluddin dari Bukhara. Beliau seorang ulama yang bersih dan  mursyid yang tulus. Suatu hari bersama para muridnya ia melakukan  perjalanan hingga sampailah ke tempat berburu yang merupakan  bagian dari wilayah kekuasaan Taklak Timur Khan, seorang cucu  Jengish Khan.

Akibatnya mereka pun ditangkaplah oleh pasukan keamanan lalu  dibawa ke hadapan Taklak Timur Khan."Siapakah engkau dan  dari mana?", tanya Timur Khan."Namaku Jamaluddin dan berasal dari  Bukhara sebagai seorang Parsi."

Mendengar jawapan tersebut cucu Jengish Khan ini serta-merta  berkata sinis, "Orang parsi itu lebih hina daripada anjing!"  Dengan tenang Syeikh Jamaluddin lalu menjawab, "Ya benar!
Andaikata tidak diberi cahaya kemuliaan dengan agama yang benar,  niscaya kami lebih hina daripada anjing."

Kalimat singkat ini diucapkannya dengan disertai keyakian yang  mantap, sehingga mengggelitik hati Timur Khan. "Apa maksud kata-katamu itu?" Dengan izin Allah Syeikh Jamaluddin menjelaskan  keindahan Islam sedemikian rupa sebagai buah dari kecintaannya  terhadap agama Allah. Ia menjelaskan betapa luhurnya Islam itu  disertai dengan tutur kata dan sikap akhlakul karimah.  Diterangkannya pula betapa kekufuran telah membawa martabat  manusia merosot, sehingga menjadi hina daripada seekor anjing.

Mendengar penjelasan itu, tergetarlah hati Timur Khan. "tetapi aku  saat ini belum menjadi kaisar, andaikata nanti aku sudah menjadi  penguasa, maka aku akan masuk Islam," ujarnya.

Waktupun berlalu dan tibalah saat ajalnya Syeikh Jamaluddin.  Menjelang ajalnya, ia lalu berkata kepada anaknya, "Wahai anak,  suatu saat Taklak Timur Khan akan menjadi kaisar. Bila nanti ia  sudah menjadi penguasa, maka datangilah olehmu. Sampaikanlah  salamku dan ingatkanlah ia akan janji yang pernah diucapkannya  dulu."

Singkat cerita, ketika tersiar berita Taklak Timur Khan diangkat  menjadi kaisar, berangkatlah putera Syeikh Jamaluddin hendak  menemuinya. Kebetulan ketika itu sang kaisar sedang berburu dan  membangun kemah tidak jauh dari tempatnya berburu itu. Sampai di
sana ternyata ia tidak diizinkan masuk oleh para pengawalnya. Ia  pun tidak kehabisan akal. Pada suatu malam menjelang subuh, dengan  perlindungan Allah, ia lalu mengumandangkan adzan sekeras-kerasnya  tidak jauh dari kemah kaisar. Keruan saja Timur Khan terbangun  dengan terkejutnya. Dengan muka merah padam ia berteriak kepada  pengawalnya, "Siapa itu yang berteriak-teriak malam-malam begini,  berani benar orang itu mengganggu tidurku!"

Para pengawalnya serentak menangkap dan menyeret putera Syeikh  Jamaluddin ke hadapan kaisar. "Siapa kamu?" bentak sang kaisar  dengan marahnya. "Saya putera Syeikh Jamaluddin, bermaksud  menyampaikan salam dari beliau untuk Baginda. Dan saya hanya ingin  mengingatkan janji yang pernah Baginda ucapkan dulu di hadapan  ayah saya," jawabnya tenang.

Mendengar nama itu sang kaisar serta-merta laksana disiram air  dingin, reda marahnya dan luluh hatinya. Singkat kata, sang kaisar  pun mengikrarkan dua kalimah syahadat, masuk Islam, yang waktu-waktu berikutnya kemudian diikuti oleh seluruh pegawai kerajaan  dan rakyatnya.

Itulah momentum berubahnya bangsa Tartar yang terkenal amat bengis  dan kejam menjadi bangsa yang bersujud di ribaan Islam. Dari  yang tadinya suka memusnahkan kerajaan-kerajaan Islam dengan  kekuatan dan keperkasaannya, ternyata malah luluh lantak hatinya  dengan sebuah perkataan.

Ratusan ribu pedang tentara Islam tak berdaya melawan keganasan  mereka, tetapi beberapa kata yang terucap jestru mampu menghujam  kalbunya, sehingga membuat kerajaan yang tidak pernah tertaklukkan  itu menjadi benteng Islam yang teramat kokoh dan tegar saat itu.

Bekasnya bisa kita lihat hingga sekarang, yakni di wilayah  Chechnya dan sekitarnya. Itulah buah dari gerakan dakwah sang  benteng Islam Tartar di bawah kekuasaan Kaisar Taklak Timur Khan.  Semua itu berkat kata-kata yang memiliki kekuatan luar biasa  dahsyat.

Memang, Syeikh Jamaluddin adalah seorang ulama yang begitu tinggi  cahaya ruhaninya. Kata-kata yang diucapkannya, sorot matanya,  caranya berjalan, sikapnya, bahkan segenap peribadinya memancarkan  kuasa yang betul-betul membuat orang yang melihat dan  mendengarkannya terpesona. Bahkan dengan begitu ia menjadi jalan  orang-orang bisa melihat bukti betapa mulianya Islam.

Jestru itu, kekuatan" inilah yang sekarang sering dipertanyakan.  Mengapa ada da'i atau mubaligh yang telah berkata banyak tentang  agama, ajakan menuju jalan kebenaran Islam begitu berhamburan  diucapkannya dengan disertai dalil-dalil yang tak terbantahkan,  tetapi kurang atau bahkan tidak memiliki daya hujam ke hati  sanubari orang-orang yang mendengarkannya? Jawabannya adalah  mungkin kekuatan cahaya ruhiyahnya yang belum ditingkatkan.

Padahal sepatah dua patah kata yang keluar dari lisan seorang  muslim yang sudah tercahayai hatinya akan membuat gelombang- gelombang kuasanya begitu dahsyat. Bagai magnet yang menyedut manusia dari kelalaiannya dari mengingat Allah Azza   wa Jalla.

Betapa banyak bukti sepanjang rentang sejarah dakwah Islamiyah,  para da'i, mubaligh, ulama dan mursyid yang bersih dan tulus  hatinya. Mereka memiliki kekuatan ruhiyah yang dahsyat, sehingga  mampu menghujamkan kata-katanya ke lubuk hati yang legam dan keras  bagai batu karang, sehingga membuahkan keinsafan, membalikkan  hati orang-orang yang tengah tersesat dalam kegelapan menuju  cahaya Islam, menunjukkan jalan yang lempang bagi siapapun yang  sedang menyimpang dari jalan-Nya, serta menjadi jalan bertaubatnya  orang-orang yang bergelimang maksiat dan berlumur dosa.

Untuk memperkuat cahaya ruhiyah, kita tidak dapat bergantung  kepada orang lain. Tetapi jestru kita sendirilah yang  mengikhtiarkannya, sehingga memiliki hati yang bening bersih  berkat tercahayai oleh cahaya ruhiyah tadi. 


Setakat ni sajalah. Illalliqo'ma'assalamah :)

Wednesday, February 2, 2011

Suka budak :D

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah... Najwa sempat share tuk hari ni :)

Takda sangat pun :), gambar Najwa ngan kazen Najwa ;p, Alif nama dia. comel!




Me n Alif Suhaili :)



allahu'alam ~ 

Illalliqo'